Rumah Adat Aceh / Aceh
adalah provinsi Indonesia yang terletak di ujung utara Pulau Sumatera.
Provinsi Aceh sering pula lekat dengan gelar Daerah Istimewa karena
dalam pemerintahannya, negara telah menjamin kekhususannya dalam
mengatur hukumnya sendiri, terutama yang berkaitan dengan hukum syariat
Islam. Aceh memang erat dengan budaya Islam. Sejarah telah mencatat
bahwa Aceh merupakan pintu masuk bagi penyebaran Islam di Indonesia pada
masa silam. Hal inilah yang menyebabkan budaya Aceh tak bisa dilepaskan
dari campur baur antara budaya Melayu sebagai budaya penduduk aslinya,
dan budaya Islam. Salah satu yang bukti yang bisa kita lihat dari adanya
akulturasi kedua budaya tersebut misalnya adalah rumah adat Aceh yang
bernama Rumah Krong Bade.
Rumah Adat Aceh
Di kesempatan kali ini, kami akan mengulas informasi seputar rumah adat
Aceh tersebut mulai dari sejarah, gaya arsitektur, gambar, struktur, dan
nilai-nilai filosofis yang terdapat di dalamnya. Bagi Anda yang ingin
tahu bagaimana uniknya rumah adat bernama Krong Bade ini, silakan simak
pembahasan berikut!
Rumah Adat Aceh (Krong Bade)
1. Struktur Bangunan Rumah
Rumah adat Krong Bade –atau juga biasa disebut Rumoh Aceh, adalah sebuah
rumah dengan struktur panggung dengan tinggi tiang 2,5 sd 3 meter dari
permukaan tanah. Keseluruhan rumah ini dibuat dari bahan kayu, kecuali
atapnya yang terbuat dari bahan daun rumbia atau daun enau yang dianyam,
serta lantainya yang dibuat dari bambu.
Karena memiliki struktur panggung, pada rumah adat Aceh ini kita dapat
menemukan ruang bawah. Ruang ini biasanya digunakan sebagai gudang
tempat penyimpanan bahan pangan, serta sebagai tempat para wanita untuk
melakukan aktivitas, misalnya aktivitas menenun kain khas Aceh.
Untuk memasuki rumah, kita perlu meniti tangga di bagian depan rumah.
Tangga tersebut biasanya memiliki jumlah anak tangga yang ganjil. Adapun
setelah naik ke bagian atas, kita akan menemukan banyak sekali lukisan
yang menempel di dinding-dinding rumah sebagai hiasan. Jumlah lukisan
pada dinding luar rumah dapat menjadi simbol tingkat ekonomi pemiliknya.
2. Fungsi Rumah Adat
Selain memiliki fungsi sebagai identitas budaya, rumah Krong Bade juga
memiliki fungsi praktis yaitu sebagai rumah tinggal masyarakat Aceh.
Untuk menunjang fungsi praktisnya tersebut, rumah adat Aceh ini dibagi
menjadi beberapa ruangan dengan kegunaannya masing-masing, yaitu:
Ruang Depan atau biasa disebut seuramoë keuë. Ruangan ini berfungsi
sebagai ruang santai dan tempat berisirahat bagi seluruh anggota
keluarga. Ruangan ini juga digunakan sebagai tempat menerima tamu.
Ruang Tengah atau biasa disebut seuramoë teungoh. Ruangan ini adalah
ruang inti dari sebuah rumah adat Aceh (ruang inong) dan di tandai
dengan lantai yang lebih tinggi dari ruang depan. Karena termasuk ruang
inti, maka ruangan ini termasuk sangat privat. Para tamu yang datang
tidak akan pernah diijinkan untuk memasukinya. Fungsi dari kamar-kamar
yang terdapat di ruang tengah ini antara lain sebagai tempat tidur
kepala keluarga, kamar anak, ruangan kamar pengantin, serta sebagai
ruang pemandian mayat ketika ada anggota keluarga yang meninggal dunia.
Ruang Belakang atau biasa disebut sebagai seurameo likot. Ruangan ini
adalah ruangan yang berfungsi sebagai tempat makan, dapur, dan tempat
bercengkrama bagi sesama anggota keluarga. Lantai ruangan ini biasanya
lebih rendah dibanding lantai rangan tengah. Sama seperti ruang depan,
ruang belakang juga tidak memiliki kamar-kamar.
Rumah Adat Aceh (Krong Bade)
3. Ciri Khas dan Nilai Filosofis
Ada beberapa ciri khas yang membedakan rumah Krong Bade dengan rumah
adat Indonesia lainnya. Ciri khas rumah adat Aceh tersebut antara lain:
Memiliki gentong air di bagian depan untuk tempat membersihkan kaki
mereka yang akan masuk rumah. Ciri ini memiliki filosofi bahwa setiap
tamu yang datang harus memiliki niat baik.
Strukturnya rumah panggung memiliki fungsi sebagai perlindungan
anggota keluarga dari serangan binatang buas.
Memiliki tangga yang anak tangganya berjumlah ganjil, merupakan
simbol tentang sifat religius dari masyarakat suku Aceh.
Terbuat dari bahan-bahan alam; merupakan simbol bahwa masyarakat
suku Aceh memiliki kedekatan dengan alam.
Memiliki banyak ukiran dan lukisan di dinding rumah; menandakan
masyarakat Aceh adalah masyarakat yang sangat mencintai keindahan.
Berbentuk persegi panjang dan membujur dari arah barat ke timur;
menandakan masyarakat Aceh adalah masyarakat yang religius.
Rumah adat Aceh atau Rumoh Aceh tidak bisa dibangun secara sembarangan.
Mengingat fungsinya yang begitu penting bagi kehidupan pemiliknya,
beberapa aturan wajib ditaati oleh seseorang yang hendak membangun rumah
adat Krong Bade ini. Aturan tersebut di antaranya upacara penentuan
hari baik, mengadakan kenduri sebelum membangun, pemilihan bahan
bangunan yang berkualitas, pengolahan bahan bangunan dengan presisi,
finishing dengan pewarnaan, penambahan lukisan, dan pemberian ukiran,
serta diakhiri dengan kenduri syukuran saat rumah akan ditempati
pemiliknya
Sumber: http://adat-tradisional.blogspot.com/2016/10/rumah-adat-aceh-krong-bade-gambar-dan.html
Disalin dari Blog Adat Tradisional.
Sumber: http://adat-tradisional.blogspot.com/2016/10/rumah-adat-aceh-krong-bade-gambar-dan.html
Disalin dari Blog Adat Tradisional.
Rumah Adat Aceh / Aceh
adalah provinsi Indonesia yang terletak di ujung utara Pulau Sumatera.
Provinsi Aceh sering pula lekat dengan gelar Daerah Istimewa karena
dalam pemerintahannya, negara telah menjamin kekhususannya dalam
mengatur hukumnya sendiri, terutama yang berkaitan dengan hukum syariat
Islam. Aceh memang erat dengan budaya Islam. Sejarah telah mencatat
bahwa Aceh merupakan pintu masuk bagi penyebaran Islam di Indonesia pada
masa silam. Hal inilah yang menyebabkan budaya Aceh tak bisa dilepaskan
dari campur baur antara budaya Melayu sebagai budaya penduduk aslinya,
dan budaya Islam. Salah satu yang bukti yang bisa kita lihat dari adanya
akulturasi kedua budaya tersebut misalnya adalah rumah adat Aceh yang
bernama Rumah Krong Bade.
Rumah Adat Aceh
Di kesempatan kali ini, kami akan mengulas informasi seputar rumah adat
Aceh tersebut mulai dari sejarah, gaya arsitektur, gambar, struktur, dan
nilai-nilai filosofis yang terdapat di dalamnya. Bagi Anda yang ingin
tahu bagaimana uniknya rumah adat bernama Krong Bade ini, silakan simak
pembahasan berikut!
Rumah Adat Aceh (Krong Bade)
1. Struktur Bangunan Rumah
Rumah adat Krong Bade –atau juga biasa disebut Rumoh Aceh, adalah sebuah
rumah dengan struktur panggung dengan tinggi tiang 2,5 sd 3 meter dari
permukaan tanah. Keseluruhan rumah ini dibuat dari bahan kayu, kecuali
atapnya yang terbuat dari bahan daun rumbia atau daun enau yang dianyam,
serta lantainya yang dibuat dari bambu.
Karena memiliki struktur panggung, pada rumah adat Aceh ini kita dapat
menemukan ruang bawah. Ruang ini biasanya digunakan sebagai gudang
tempat penyimpanan bahan pangan, serta sebagai tempat para wanita untuk
melakukan aktivitas, misalnya aktivitas menenun kain khas Aceh.
Untuk memasuki rumah, kita perlu meniti tangga di bagian depan rumah.
Tangga tersebut biasanya memiliki jumlah anak tangga yang ganjil. Adapun
setelah naik ke bagian atas, kita akan menemukan banyak sekali lukisan
yang menempel di dinding-dinding rumah sebagai hiasan. Jumlah lukisan
pada dinding luar rumah dapat menjadi simbol tingkat ekonomi pemiliknya.
2. Fungsi Rumah Adat
Selain memiliki fungsi sebagai identitas budaya, rumah Krong Bade juga
memiliki fungsi praktis yaitu sebagai rumah tinggal masyarakat Aceh.
Untuk menunjang fungsi praktisnya tersebut, rumah adat Aceh ini dibagi
menjadi beberapa ruangan dengan kegunaannya masing-masing, yaitu:
Ruang Depan atau biasa disebut seuramoë keuë. Ruangan ini berfungsi
sebagai ruang santai dan tempat berisirahat bagi seluruh anggota
keluarga. Ruangan ini juga digunakan sebagai tempat menerima tamu.
Ruang Tengah atau biasa disebut seuramoë teungoh. Ruangan ini adalah
ruang inti dari sebuah rumah adat Aceh (ruang inong) dan di tandai
dengan lantai yang lebih tinggi dari ruang depan. Karena termasuk ruang
inti, maka ruangan ini termasuk sangat privat. Para tamu yang datang
tidak akan pernah diijinkan untuk memasukinya. Fungsi dari kamar-kamar
yang terdapat di ruang tengah ini antara lain sebagai tempat tidur
kepala keluarga, kamar anak, ruangan kamar pengantin, serta sebagai
ruang pemandian mayat ketika ada anggota keluarga yang meninggal dunia.
Ruang Belakang atau biasa disebut sebagai seurameo likot. Ruangan ini
adalah ruangan yang berfungsi sebagai tempat makan, dapur, dan tempat
bercengkrama bagi sesama anggota keluarga. Lantai ruangan ini biasanya
lebih rendah dibanding lantai rangan tengah. Sama seperti ruang depan,
ruang belakang juga tidak memiliki kamar-kamar.
Rumah Adat Aceh (Krong Bade)
3. Ciri Khas dan Nilai Filosofis
Ada beberapa ciri khas yang membedakan rumah Krong Bade dengan rumah
adat Indonesia lainnya. Ciri khas rumah adat Aceh tersebut antara lain:
Memiliki gentong air di bagian depan untuk tempat membersihkan kaki
mereka yang akan masuk rumah. Ciri ini memiliki filosofi bahwa setiap
tamu yang datang harus memiliki niat baik.
Strukturnya rumah panggung memiliki fungsi sebagai perlindungan
anggota keluarga dari serangan binatang buas.
Memiliki tangga yang anak tangganya berjumlah ganjil, merupakan
simbol tentang sifat religius dari masyarakat suku Aceh.
Terbuat dari bahan-bahan alam; merupakan simbol bahwa masyarakat
suku Aceh memiliki kedekatan dengan alam.
Memiliki banyak ukiran dan lukisan di dinding rumah; menandakan
masyarakat Aceh adalah masyarakat yang sangat mencintai keindahan.
Berbentuk persegi panjang dan membujur dari arah barat ke timur;
menandakan masyarakat Aceh adalah masyarakat yang religius.
Rumah adat Aceh atau Rumoh Aceh tidak bisa dibangun secara sembarangan.
Mengingat fungsinya yang begitu penting bagi kehidupan pemiliknya,
beberapa aturan wajib ditaati oleh seseorang yang hendak membangun rumah
adat Krong Bade ini. Aturan tersebut di antaranya upacara penentuan
hari baik, mengadakan kenduri sebelum membangun, pemilihan bahan
bangunan yang berkualitas, pengolahan bahan bangunan dengan presisi,
finishing dengan pewarnaan, penambahan lukisan, dan pemberian ukiran,
serta diakhiri dengan kenduri syukuran saat rumah akan ditempati
pemiliknya
Sumber: http://adat-tradisional.blogspot.com/2016/10/rumah-adat-aceh-krong-bade-gambar-dan.html
Disalin dari Blog Adat Tradisional.
Sumber: http://adat-tradisional.blogspot.com/2016/10/rumah-adat-aceh-krong-bade-gambar-dan.html
Disalin dari Blog Adat Tradisional.
Rumah Adat Aceh / Aceh
adalah provinsi Indonesia yang terletak di ujung utara Pulau Sumatera.
Provinsi Aceh sering pula lekat dengan gelar Daerah Istimewa karena
dalam pemerintahannya, negara telah menjamin kekhususannya dalam
mengatur hukumnya sendiri, terutama yang berkaitan dengan hukum syariat
Islam. Aceh memang erat dengan budaya Islam. Sejarah telah mencatat
bahwa Aceh merupakan pintu masuk bagi penyebaran Islam di Indonesia pada
masa silam. Hal inilah yang menyebabkan budaya Aceh tak bisa dilepaskan
dari campur baur antara budaya Melayu sebagai budaya penduduk aslinya,
dan budaya Islam. Salah satu yang bukti yang bisa kita lihat dari adanya
akulturasi kedua budaya tersebut misalnya adalah rumah adat Aceh yang
bernama Rumah Krong Bade.
Rumah Adat Aceh
Di kesempatan kali ini, kami akan mengulas informasi seputar rumah adat
Aceh tersebut mulai dari sejarah, gaya arsitektur, gambar, struktur, dan
nilai-nilai filosofis yang terdapat di dalamnya. Bagi Anda yang ingin
tahu bagaimana uniknya rumah adat bernama Krong Bade ini, silakan simak
pembahasan berikut!
Rumah Adat Aceh (Krong Bade)
1. Struktur Bangunan Rumah
Rumah adat Krong Bade –atau juga biasa disebut Rumoh Aceh, adalah sebuah
rumah dengan struktur panggung dengan tinggi tiang 2,5 sd 3 meter dari
permukaan tanah. Keseluruhan rumah ini dibuat dari bahan kayu, kecuali
atapnya yang terbuat dari bahan daun rumbia atau daun enau yang dianyam,
serta lantainya yang dibuat dari bambu.
Karena memiliki struktur panggung, pada rumah adat Aceh ini kita dapat
menemukan ruang bawah. Ruang ini biasanya digunakan sebagai gudang
tempat penyimpanan bahan pangan, serta sebagai tempat para wanita untuk
melakukan aktivitas, misalnya aktivitas menenun kain khas Aceh.
Untuk memasuki rumah, kita perlu meniti tangga di bagian depan rumah.
Tangga tersebut biasanya memiliki jumlah anak tangga yang ganjil. Adapun
setelah naik ke bagian atas, kita akan menemukan banyak sekali lukisan
yang menempel di dinding-dinding rumah sebagai hiasan. Jumlah lukisan
pada dinding luar rumah dapat menjadi simbol tingkat ekonomi pemiliknya.
2. Fungsi Rumah Adat
Selain memiliki fungsi sebagai identitas budaya, rumah Krong Bade juga
memiliki fungsi praktis yaitu sebagai rumah tinggal masyarakat Aceh.
Untuk menunjang fungsi praktisnya tersebut, rumah adat Aceh ini dibagi
menjadi beberapa ruangan dengan kegunaannya masing-masing, yaitu:
Ruang Depan atau biasa disebut seuramoë keuë. Ruangan ini berfungsi
sebagai ruang santai dan tempat berisirahat bagi seluruh anggota
keluarga. Ruangan ini juga digunakan sebagai tempat menerima tamu.
Ruang Tengah atau biasa disebut seuramoë teungoh. Ruangan ini adalah
ruang inti dari sebuah rumah adat Aceh (ruang inong) dan di tandai
dengan lantai yang lebih tinggi dari ruang depan. Karena termasuk ruang
inti, maka ruangan ini termasuk sangat privat. Para tamu yang datang
tidak akan pernah diijinkan untuk memasukinya. Fungsi dari kamar-kamar
yang terdapat di ruang tengah ini antara lain sebagai tempat tidur
kepala keluarga, kamar anak, ruangan kamar pengantin, serta sebagai
ruang pemandian mayat ketika ada anggota keluarga yang meninggal dunia.
Ruang Belakang atau biasa disebut sebagai seurameo likot. Ruangan ini
adalah ruangan yang berfungsi sebagai tempat makan, dapur, dan tempat
bercengkrama bagi sesama anggota keluarga. Lantai ruangan ini biasanya
lebih rendah dibanding lantai rangan tengah. Sama seperti ruang depan,
ruang belakang juga tidak memiliki kamar-kamar.
Rumah Adat Aceh (Krong Bade)
3. Ciri Khas dan Nilai Filosofis
Ada beberapa ciri khas yang membedakan rumah Krong Bade dengan rumah
adat Indonesia lainnya. Ciri khas rumah adat Aceh tersebut antara lain:
Memiliki gentong air di bagian depan untuk tempat membersihkan kaki
mereka yang akan masuk rumah. Ciri ini memiliki filosofi bahwa setiap
tamu yang datang harus memiliki niat baik.
Strukturnya rumah panggung memiliki fungsi sebagai perlindungan
anggota keluarga dari serangan binatang buas.
Memiliki tangga yang anak tangganya berjumlah ganjil, merupakan
simbol tentang sifat religius dari masyarakat suku Aceh.
Terbuat dari bahan-bahan alam; merupakan simbol bahwa masyarakat
suku Aceh memiliki kedekatan dengan alam.
Memiliki banyak ukiran dan lukisan di dinding rumah; menandakan
masyarakat Aceh adalah masyarakat yang sangat mencintai keindahan.
Berbentuk persegi panjang dan membujur dari arah barat ke timur;
menandakan masyarakat Aceh adalah masyarakat yang religius.
Rumah adat Aceh atau Rumoh Aceh tidak bisa dibangun secara sembarangan.
Mengingat fungsinya yang begitu penting bagi kehidupan pemiliknya,
beberapa aturan wajib ditaati oleh seseorang yang hendak membangun rumah
adat Krong Bade ini. Aturan tersebut di antaranya upacara penentuan
hari baik, mengadakan kenduri sebelum membangun, pemilihan bahan
bangunan yang berkualitas, pengolahan bahan bangunan dengan presisi,
finishing dengan pewarnaan, penambahan lukisan, dan pemberian ukiran,
serta diakhiri dengan kenduri syukuran saat rumah akan ditempati
pemiliknya
Sumber: http://adat-tradisional.blogspot.com/2016/10/rumah-adat-aceh-krong-bade-gambar-dan.html
Disalin dari Blog Adat Tradisional.
Sumber: http://adat-tradisional.blogspot.com/2016/10/rumah-adat-aceh-krong-bade-gambar-dan.html
Disalin dari Blog Adat Tradisional.
Rumah Adat Aceh / Aceh
adalah provinsi Indonesia yang terletak di ujung utara Pulau Sumatera.
Provinsi Aceh sering pula lekat dengan gelar Daerah Istimewa karena
dalam pemerintahannya, negara telah menjamin kekhususannya dalam
mengatur hukumnya sendiri, terutama yang berkaitan dengan hukum syariat
Islam. Aceh memang erat dengan budaya Islam. Sejarah telah mencatat
bahwa Aceh merupakan pintu masuk bagi penyebaran Islam di Indonesia pada
masa silam. Hal inilah yang menyebabkan budaya Aceh tak bisa dilepaskan
dari campur baur antara budaya Melayu sebagai budaya penduduk aslinya,
dan budaya Islam. Salah satu yang bukti yang bisa kita lihat dari adanya
akulturasi kedua budaya tersebut misalnya adalah rumah adat Aceh yang
bernama Rumah Krong Bade.
Rumah Adat Aceh
Di kesempatan kali ini, kami akan mengulas informasi seputar rumah adat
Aceh tersebut mulai dari sejarah, gaya arsitektur, gambar, struktur, dan
nilai-nilai filosofis yang terdapat di dalamnya. Bagi Anda yang ingin
tahu bagaimana uniknya rumah adat bernama Krong Bade ini, silakan simak
pembahasan berikut!
Rumah Adat Aceh (Krong Bade)
1. Struktur Bangunan Rumah
Rumah adat Krong Bade –atau juga biasa disebut Rumoh Aceh, adalah sebuah
rumah dengan struktur panggung dengan tinggi tiang 2,5 sd 3 meter dari
permukaan tanah. Keseluruhan rumah ini dibuat dari bahan kayu, kecuali
atapnya yang terbuat dari bahan daun rumbia atau daun enau yang dianyam,
serta lantainya yang dibuat dari bambu.
Karena memiliki struktur panggung, pada rumah adat Aceh ini kita dapat
menemukan ruang bawah. Ruang ini biasanya digunakan sebagai gudang
tempat penyimpanan bahan pangan, serta sebagai tempat para wanita untuk
melakukan aktivitas, misalnya aktivitas menenun kain khas Aceh.
Untuk memasuki rumah, kita perlu meniti tangga di bagian depan rumah.
Tangga tersebut biasanya memiliki jumlah anak tangga yang ganjil. Adapun
setelah naik ke bagian atas, kita akan menemukan banyak sekali lukisan
yang menempel di dinding-dinding rumah sebagai hiasan. Jumlah lukisan
pada dinding luar rumah dapat menjadi simbol tingkat ekonomi pemiliknya.
2. Fungsi Rumah Adat
Selain memiliki fungsi sebagai identitas budaya, rumah Krong Bade juga
memiliki fungsi praktis yaitu sebagai rumah tinggal masyarakat Aceh.
Untuk menunjang fungsi praktisnya tersebut, rumah adat Aceh ini dibagi
menjadi beberapa ruangan dengan kegunaannya masing-masing, yaitu:
Ruang Depan atau biasa disebut seuramoë keuë. Ruangan ini berfungsi
sebagai ruang santai dan tempat berisirahat bagi seluruh anggota
keluarga. Ruangan ini juga digunakan sebagai tempat menerima tamu.
Ruang Tengah atau biasa disebut seuramoë teungoh. Ruangan ini adalah
ruang inti dari sebuah rumah adat Aceh (ruang inong) dan di tandai
dengan lantai yang lebih tinggi dari ruang depan. Karena termasuk ruang
inti, maka ruangan ini termasuk sangat privat. Para tamu yang datang
tidak akan pernah diijinkan untuk memasukinya. Fungsi dari kamar-kamar
yang terdapat di ruang tengah ini antara lain sebagai tempat tidur
kepala keluarga, kamar anak, ruangan kamar pengantin, serta sebagai
ruang pemandian mayat ketika ada anggota keluarga yang meninggal dunia.
Ruang Belakang atau biasa disebut sebagai seurameo likot. Ruangan ini
adalah ruangan yang berfungsi sebagai tempat makan, dapur, dan tempat
bercengkrama bagi sesama anggota keluarga. Lantai ruangan ini biasanya
lebih rendah dibanding lantai rangan tengah. Sama seperti ruang depan,
ruang belakang juga tidak memiliki kamar-kamar.
Rumah Adat Aceh (Krong Bade)
3. Ciri Khas dan Nilai Filosofis
Ada beberapa ciri khas yang membedakan rumah Krong Bade dengan rumah
adat Indonesia lainnya. Ciri khas rumah adat Aceh tersebut antara lain:
Memiliki gentong air di bagian depan untuk tempat membersihkan kaki
mereka yang akan masuk rumah. Ciri ini memiliki filosofi bahwa setiap
tamu yang datang harus memiliki niat baik.
Strukturnya rumah panggung memiliki fungsi sebagai perlindungan
anggota keluarga dari serangan binatang buas.
Memiliki tangga yang anak tangganya berjumlah ganjil, merupakan
simbol tentang sifat religius dari masyarakat suku Aceh.
Terbuat dari bahan-bahan alam; merupakan simbol bahwa masyarakat
suku Aceh memiliki kedekatan dengan alam.
Memiliki banyak ukiran dan lukisan di dinding rumah; menandakan
masyarakat Aceh adalah masyarakat yang sangat mencintai keindahan.
Berbentuk persegi panjang dan membujur dari arah barat ke timur;
menandakan masyarakat Aceh adalah masyarakat yang religius.
Rumah adat Aceh atau Rumoh Aceh tidak bisa dibangun secara sembarangan.
Mengingat fungsinya yang begitu penting bagi kehidupan pemiliknya,
beberapa aturan wajib ditaati oleh seseorang yang hendak membangun rumah
adat Krong Bade ini. Aturan tersebut di antaranya upacara penentuan
hari baik, mengadakan kenduri sebelum membangun, pemilihan bahan
bangunan yang berkualitas, pengolahan bahan bangunan dengan presisi,
finishing dengan pewarnaan, penambahan lukisan, dan pemberian ukiran,
serta diakhiri dengan kenduri syukuran saat rumah akan ditempati
pemiliknya.
Sumber: http://adat-tradisional.blogspot.com/2016/10/rumah-adat-aceh-krong-bade-gambar-dan.html
Disalin dari Blog Adat Tradisional.
Sumber: http://adat-tradisional.blogspot.com/2016/10/rumah-adat-aceh-krong-bade-gambar-dan.html
Disalin dari Blog Adat Tradisional.
Rumah Adat Aceh / Aceh
adalah provinsi Indonesia yang terletak di ujung utara Pulau Sumatera.
Provinsi Aceh sering pula lekat dengan gelar Daerah Istimewa karena
dalam pemerintahannya, negara telah menjamin kekhususannya dalam
mengatur hukumnya sendiri, terutama yang berkaitan dengan hukum syariat
Islam. Aceh memang erat dengan budaya Islam. Sejarah telah mencatat
bahwa Aceh merupakan pintu masuk bagi penyebaran Islam di Indonesia pada
masa silam. Hal inilah yang menyebabkan budaya Aceh tak bisa dilepaskan
dari campur baur antara budaya Melayu sebagai budaya penduduk aslinya,
dan budaya Islam. Salah satu yang bukti yang bisa kita lihat dari adanya
akulturasi kedua budaya tersebut misalnya adalah rumah adat Aceh yang
bernama Rumah Krong Bade.
Rumah Adat Aceh
Di kesempatan kali ini, kami akan mengulas informasi seputar rumah adat
Aceh tersebut mulai dari sejarah, gaya arsitektur, gambar, struktur, dan
nilai-nilai filosofis yang terdapat di dalamnya. Bagi Anda yang ingin
tahu bagaimana uniknya rumah adat bernama Krong Bade ini, silakan simak
pembahasan berikut!
Rumah Adat Aceh (Krong Bade)
1. Struktur Bangunan Rumah
Rumah adat Krong Bade –atau juga biasa disebut Rumoh Aceh, adalah sebuah
rumah dengan struktur panggung dengan tinggi tiang 2,5 sd 3 meter dari
permukaan tanah. Keseluruhan rumah ini dibuat dari bahan kayu, kecuali
atapnya yang terbuat dari bahan daun rumbia atau daun enau yang dianyam,
serta lantainya yang dibuat dari bambu.
Karena memiliki struktur panggung, pada rumah adat Aceh ini kita dapat
menemukan ruang bawah. Ruang ini biasanya digunakan sebagai gudang
tempat penyimpanan bahan pangan, serta sebagai tempat para wanita untuk
melakukan aktivitas, misalnya aktivitas menenun kain khas Aceh.
Untuk memasuki rumah, kita perlu meniti tangga di bagian depan rumah.
Tangga tersebut biasanya memiliki jumlah anak tangga yang ganjil. Adapun
setelah naik ke bagian atas, kita akan menemukan banyak sekali lukisan
yang menempel di dinding-dinding rumah sebagai hiasan. Jumlah lukisan
pada dinding luar rumah dapat menjadi simbol tingkat ekonomi pemiliknya.
2. Fungsi Rumah Adat
Selain memiliki fungsi sebagai identitas budaya, rumah Krong Bade juga
memiliki fungsi praktis yaitu sebagai rumah tinggal masyarakat Aceh.
Untuk menunjang fungsi praktisnya tersebut, rumah adat Aceh ini dibagi
menjadi beberapa ruangan dengan kegunaannya masing-masing, yaitu:
Ruang Depan atau biasa disebut seuramoë keuë. Ruangan ini berfungsi
sebagai ruang santai dan tempat berisirahat bagi seluruh anggota
keluarga. Ruangan ini juga digunakan sebagai tempat menerima tamu.
Ruang Tengah atau biasa disebut seuramoë teungoh. Ruangan ini adalah
ruang inti dari sebuah rumah adat Aceh (ruang inong) dan di tandai
dengan lantai yang lebih tinggi dari ruang depan. Karena termasuk ruang
inti, maka ruangan ini termasuk sangat privat. Para tamu yang datang
tidak akan pernah diijinkan untuk memasukinya. Fungsi dari kamar-kamar
yang terdapat di ruang tengah ini antara lain sebagai tempat tidur
kepala keluarga, kamar anak, ruangan kamar pengantin, serta sebagai
ruang pemandian mayat ketika ada anggota keluarga yang meninggal dunia.
Ruang Belakang atau biasa disebut sebagai seurameo likot. Ruangan ini
adalah ruangan yang berfungsi sebagai tempat makan, dapur, dan tempat
bercengkrama bagi sesama anggota keluarga. Lantai ruangan ini biasanya
lebih rendah dibanding lantai rangan tengah. Sama seperti ruang depan,
ruang belakang juga tidak memiliki kamar-kamar.
Rumah Adat Aceh (Krong Bade)
3. Ciri Khas dan Nilai Filosofis
Ada beberapa ciri khas yang membedakan rumah Krong Bade dengan rumah
adat Indonesia lainnya. Ciri khas rumah adat Aceh tersebut antara lain:
Memiliki gentong air di bagian depan untuk tempat membersihkan kaki
mereka yang akan masuk rumah. Ciri ini memiliki filosofi bahwa setiap
tamu yang datang harus memiliki niat baik.
Strukturnya rumah panggung memiliki fungsi sebagai perlindungan
anggota keluarga dari serangan binatang buas.
Memiliki tangga yang anak tangganya berjumlah ganjil, merupakan
simbol tentang sifat religius dari masyarakat suku Aceh.
Terbuat dari bahan-bahan alam; merupakan simbol bahwa masyarakat
suku Aceh memiliki kedekatan dengan alam.
Memiliki banyak ukiran dan lukisan di dinding rumah; menandakan
masyarakat Aceh adalah masyarakat yang sangat mencintai keindahan.
Berbentuk persegi panjang dan membujur dari arah barat ke timur;
menandakan masyarakat Aceh adalah masyarakat yang religius.
Rumah adat Aceh atau Rumoh Aceh tidak bisa dibangun secara sembarangan.
Mengingat fungsinya yang begitu penting bagi kehidupan pemiliknya,
beberapa aturan wajib ditaati oleh seseorang yang hendak membangun rumah
adat Krong Bade ini. Aturan tersebut di antaranya upacara penentuan
hari baik, mengadakan kenduri sebelum membangun, pemilihan bahan
bangunan yang berkualitas, pengolahan bahan bangunan dengan presisi,
finishing dengan pewarnaan, penambahan lukisan, dan pemberian ukiran,
serta diakhiri dengan kenduri syukuran saat rumah akan ditempati
pemiliknya.
Sumber: http://adat-tradisional.blogspot.com/2016/10/rumah-adat-aceh-krong-bade-gambar-dan.html
Disalin dari Blog Adat Tradisional.
Sumber: http://adat-tradisional.blogspot.com/2016/10/rumah-adat-aceh-krong-bade-gambar-dan.html
Disalin dari Blog Adat Tradisional.






0 komentar:
Posting Komentar