Senin, 11 September 2017

Redaksi acehmusician.org tergerak untuk menggali kembali khazanah musik tradisi Aceh, baik yang telah berumur ratusan tahun, maupun yang baru berusia puluhan tahun tetapi sudah dianggap sebagai sesuatu yang “khas Aceh”. Kami bertekad untuk memperkenalkannya kembali ke masyarakat dengan harapan bisa menyegarkan kembali memori mereka yang sudah pernah tahu atau kenal, dan atau bisa memberi informasi kepada mereka yang tidak familiar dengan khazanah musik tradisi Aceh, terutama para generasi muda dan masyarakat pencinta seni dari luar Aceh

Gendrang” atau “Geundrang” adalah alat musik perkusi tradisional Aceh yang termasuk dalam keluarga two-headed drum/double-headed drum. Kata “Geundrang” mempunyai sinonim dengan kata “Genderang“, dan mempunyai kesamaan dengan beberapa instrumen sejenis di Nusantara seperti Kendang (Sunda), Khendhang (Jawa), Gendang (Melayu), dan Gandang (Melayu Filipina). Bedanya di ukuran kerangka (frame) atau bodynya, serta cara bermainnya.
Geundrang mempunyai double-membrane (kulit) kiri dan kanan dengan body atau frame lebih panjang dibanding dengan jenis Geundrang lainnya. Mempunyai berbagai macam ukuran dan bentuk serta digunakan untuk upacara-upacara, baik keagamaan, tarian, nyanyian, upacara resmi dan upacara lainnya.
Menurut catatan yang didapatkan kemungkinan telah ada sejak Aceh zaman Hindu dan mirip dengan instrumen Dhol yang berasal dari India, atau diduga juga datang ke Aceh lewat pedagang Islam dari Gujarat akhir abad ke XI.
Instrumen sejenis Geundrang telah ada sejak zaman neolitikum yang dibuktikan dengan ditemukannya serangkaian alat Geundrang peninggalan kebudayaan Mesopotamia (Lembah Ur) yang berasal dari tahun 3000 SM , dan terdapat beberapa relief patung alat musik ini di India bertarikh 2000 tahun yang lampau.
Di Aceh, Geundrang dapat dijumpai di daerah Aceh Besar dan pesisir lain seperti Pidie dan Aceh Utara, dan dimainkan secara ensemble dengan alat musik serune kalee dan rapai.

Cara Pembuatan

Geundrang biasanya dibuat dari sepotong batang kayu keupula (tanjung) atau nangka yang besar dan cukup tua, lalu dilobangi berbentuk silinder atau dikorek sedemikian rupa sehingga berbentuk seperti sebuah tong (barrel) yang bulat atau rounded-hollow-shaped. Pada setiap sisi kelawang (body-nya) diberi kulit kambing atau kulit sapi yang telah ditipiskan dengan menggunakan buloh (sejenis bambu). Geundrang dari bahan kayu kepula (tanjung) akan lebih nyaring dari bahan kayu batang nangka. 
Pada masing-masing permukaan lingkarannya (kiri dan kanan) yang diberi membran itu, terdapat ring (hoop) dari rotan melingkari bodinya. Untuk tuning suara, kedua kulit Geundrang tadi dikencangkan dengan memakai tali dari kulit yang menghubungkan antara kulit Geundrang yang satu dengan yang lainnya lewat ring yang ada.
Ukuran panjang body Geundrang ± 50 cm, garis tengah bulatan kulit sebelah kanan ± 28 cm dan kiri 35 cm. Sebuah stick (baguettes) dibuat dari batang kayu kemuneng berukuran panjang 33 cm dengan bagian kepala yang membengkok dengan panjang lebih kurang 6 cm, lebar ± 2 cm. Untuk memudahkan dalam membawanya diberi tali penyandang (strap) sehingga dapat digantungkan di bahu. Bahan tali dapat dibuat dari kain atau kulit. 

Cara Memainkan

Geundrang tidak mempunyai tangga nada, dan warna suaranya tergantung dari kencangnya tarikan kulit. Bisa dimainkan dengan posisi duduk bersila atau berdiri/berjalan mengikuti pawai, dengan disandang pada bahu melalui strap (tali). Biasanya (right-handed), genderang dipukul dengan menggunakan stik pada tangan kanan, dan tangan kiri tanpa stik (tangan kosong). Dalam sebuah ensemble Serune Kalee terdapat dua buah Geundrang, sebuah rapai dan sebuah lagi Geundrang kecil (Geundrang anak) sebagai pembawa tempo atau ritmik dengan gaya interlocking figuration untuk tingkahan-tingkahan.
Stick dipukul dengan mempergunakan ujungnya yang bengkok sehingga mengeluarkan nada tajam singkat (attacks atau accent), dan dapat juga dengan samping atau pinggiran stick bagian atas yang mengeluarkan suara sedang seperti di-depth. Selain itu bisa pakai damper, kemudian tangan kanan mengadakan tingkahan-tingkahan ataupun friction (geser-geseran).
Baguettes (stick) dapat menghasilkan suara pukulan singkat dan tajam (clear beat) atau pukulan nyaring serta suara dinamik keras (ff), terutama karena luas lingkaran sebelah kanan lebih kecil daripada sebelah kiri. Sedangkan sebelah kiri yang dipukul dengan tangan kosong, dapat menghasilkan suara low (bass). Suara gemerincing bisa didapat dengan bantuan pukulan rapai yang pada frame-nya terdapat lempengan logam (giring-giring) yang memberikan suara gemerincing (suara phring) atau crisp.

0 komentar:

Posting Komentar